Jumat, 03 Oktober 2008

Seniman Krisis Ruang Publik

Seniman Krisis Ruang Publik
Kasus Babakan Siliwangi Pertanda Minim Kepekaan
Jumat, 19 September 2008 | 14:00 WIB

Bandung, Kompas - Seniman di Bandung masih terkendala ruang publik yang layak untuk memamerkan karya seni. Penyebabnya antara lain minimnya ketersediaan lahan dan tingginya biaya sewa tempat. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mematikan kreativitas seni.

Pelukis, Andi Sopiandi, Kamis (18/9) di Bandung, mengatakan, dalam sekali pameran perlu biaya minimal Rp 10 juta. Itu sudah termasuk biaya publikasi, terutama pembuatan poster dan pamflet.

Biaya penyelenggaraan pameran yang mahal menjadi kendala terbesar. Apalagi, uang yang dikeluarkan sering tidak setimpal dengan hasil yang diperoleh. Beberapa tempat, seperti Rumentang Siang dan Galeri Kita, dianggap minim perhatian, khususnya tata letak atau pencahayaan.

"Dengan segala keadaan ini, tindakan Pemerintah Kota Bandung membangun rumah makan di Babakan Siliwangi sebenarnya harus dipertanyakan. Ruang yang sudah sedikit tentu akan semakin berkurang. Seniman di Kota Bandung akan semakin kesulitan mempertahankan eksistensinya," katanya.

Pelukis, Arman Jamparing, menegaskan, Bandung masih minim tempat pameran yang layak pakai bagi seniman. Hal itu menyebabkan kerugian pendapatan dan nama baik daerah. Seni sebagai salah satu investasi tidak tergarap maksimal.

Tergilas daerah lain

Selain kehilangan pendapatan dari kedatangan turis, kesenian warga Jabar bisa tergilas daerah lain. Keprihatinan ini, menurut Arman, harus segera dikritisi pemerintah daerah. Rencana pembangunan rumah makan di Babakan Siliwangi, misalnya, bertentangan dengan ketersediaan ruang publik di Bandung.

"Mereka seharusnya melihat langsung kondisi kesenian hingga tingkat paling bawah. Semua pihak sudah bosan dengan janji kampanye memajukan seni Bandung dan Jabar yang kenyataannya tidak pernah terwujud," ujarnya.

Menanggapi ini, pengelola Galeri Soemardja, Aminudin Siregar, memaklumi bila banyak seniman mengeluhkan tingginya dana untuk mengadakan suatu pameran. Karena itu, khususnya Galeri Soemardja, Aminudin tidak mau menganggap masalah finansial menjadi alasan utama suatu pameran.

Di Galeri Soemardja, tidak ada syarat tinggi dan khsusus pada karya yang layak tampil. Yang penting, karya bisa dinikmati masyarakat seluas-luasnya.

"Ke depan, pemerintah diharapkan mendorong swasta terjun membangun galeri komersial. Salah satunya memudahkan peraturan membangun dan melindungi fasilitas kesenian. Cara ini diyakini menaikkan nilai ekonomi kesenian Jabar," katanya.

Menurut Koordinator Museum Barli, Syarif Hidayat, permasalahan keterbatasan dana dan ruang memang menjadi hal yang tidak pernah usai, bahkan terus menjadi kegelisahan banyak seniman di Bandung.

Akibatnya, banyak karya baru urung muncul dinikmati publik akibat minimnya saran pendukung. Maka, sebagai salah satu pengamalan atas pesan almarhum Barli, pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi semua orang dari berbagai latar belakang yang ingin belajar bermacam-macam seni. (CHE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/19/14002990/seniman.krisis.ruang.publik.

Tidak ada komentar: